Wednesday, 01 July 2026
Finansial

Bank Indonesia Diprediksi Akan Pertahankan Suku Bunga di 5,50 Persen, Apa Alasannya?

Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50 persen dalam rapat dewan gubernur hari ini untuk menjaga stabilitas ekonomi.

R
Reza Mahendra
18 June 2026 37 pembaca
Logo Bank Indonesia. [Antara]
Logo Bank Indonesia. [Antara]
suara.com Sumber: suara.com

Bank Indonesia (BI) diprediksi akan menahan suku bunga acuan di angka 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang dilaksanakan hari ini. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta merespons ketidakpastian kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat.

Alasan Menahan Suku Bunga

Menjaga suku bunga pada level ini bertujuan untuk menyeimbangkan beban ekonomi nasional tanpa memberikan tekanan tambahan pada sektor perbankan dan konsumsi rumah tangga. Ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa keputusan ini adalah langkah yang paling rasional mengingat kondisi nilai tukar rupiah yang masih rentan, inflasi yang meningkat, dan ketidakpastian kebijakan suku bunga dari The Fed.

Josua menyatakan, "Prospek BI Rate, rupiah, dan kebijakan moneter Indonesia menjadi perhatian utama pelaku pasar menjelang pengumuman hasil RDG BI." Ia menambahkan bahwa kemungkinan BI untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat sangat kecil, terutama karena inflasi pada Mei 2026 telah meningkat menjadi 3,08 persen dan pasar masih menunggu sinyal dari The Fed.

Kondisi Rupiah dan Dampak Kenaikan Suku Bunga Sebelumnya

Sementara itu, kondisi rupiah yang saat ini bergerak di bawah Rp18.000 per dolar AS, tepatnya di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400, memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga. Josua menjelaskan bahwa salah satu alasan utama BI untuk mempertahankan suku bunga adalah karena dampak dari kenaikan suku bunga sebelumnya masih memerlukan waktu untuk memberikan hasil yang optimal.

Bank Indonesia telah melakukan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin pada bulan Mei dan 25 basis poin pada bulan Juni, yang dianggap sudah cukup signifikan dalam waktu yang relatif singkat. Ia menambahkan, jika BI kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, pasar mungkin akan menerima dua pesan yang berbeda. Di satu sisi, hal tersebut menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, namun di sisi lain, hal ini dapat diartikan bahwa tekanan terhadap rupiah masih sangat serius dan belum teratasi.

Josua menegaskan, "Oleh karena itu, mempertahankan suku bunga sambil tetap waspada dinilai sebagai pilihan yang lebih seimbang." Ia juga berpendapat bahwa BI memiliki alasan kuat untuk menunggu hasil keputusan dan pernyataan dari The Fed. Jika bank sentral AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tanpa memberikan sinyal pengetatan yang lebih agresif, maka tekanan terhadap dolar AS berpotensi mereda, sehingga BI tidak perlu melakukan pengetatan tambahan. Sebaliknya, jika The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat, maka dolar AS berpotensi menguat kembali dan memberikan tekanan baru terhadap rupiah.

// Artikel Terkait