Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Apakah Micin Memengaruhi Kecerdasan? Simak Faktanya

Mitos bahwa konsumsi micin dapat menyebabkan kebodohan telah beredar luas, namun sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak berdasar. Artikel ini membahas asal-usul micin dan fakta-...

P
Patrick Jonathan
29 July 2026 47 pembaca
Foto: Magnific
Foto: Magnific

Jakarta - MSG (Monosodium Glutamat) atau yang lebih dikenal dengan micin, telah lama digunakan untuk meningkatkan rasa pada berbagai masakan. Namun, di tengah popularitasnya, muncul anggapan bahwa mengonsumsi micin dapat menyebabkan kebodohan. Menurut informasi dari situs resmi Health Expert, mitos ini berakar dari laporan yang muncul pada tahun 1960-an yang dikenal dengan istilah "Chinese Restaurant Syndrome" (CRS). Pada waktu itu, beberapa orang melaporkan mengalami gejala seperti sakit kepala dan mual setelah makan di restoran China yang menggunakan MSG.

Media pada saat itu menyederhanakan laporan tersebut dan langsung mengaitkannya dengan MSG tanpa melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap faktor lain yang mungkin berkontribusi. Dari sinilah narasi bahwa micin dapat membuat orang menjadi bodoh berkembang dan semakin meluas.

Asal Usul Micin

Di balik stigma yang ada, banyak orang masih mempertanyakan apa sebenarnya micin itu. Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan, micin adalah penambah rasa berbentuk kristal putih yang dihasilkan dari ekstrak bahan alami melalui proses fermentasi. Proses produksi micin bervariasi, namun yang paling umum adalah dengan memanfaatkan bakteri yang diberi makan karbohidrat dari sumber seperti tebu, kentang, dan ampas sayuran. Bakteri ini kemudian menghasilkan glutamat yang diekstrak menjadi monosodium glutamat.

Mitos Micin dan Kecerdasan

Secara ilmiah, tidak ada bukti yang mendukung bahwa micin dapat menyebabkan kebodohan. Hal ini terlihat dari negara-negara dengan konsumsi MSG yang tinggi, seperti Jepang, Korea Selatan, dan China, yang juga memiliki tingkat kecerdasan yang baik. Data menunjukkan bahwa masyarakat Jepang dan Korea Selatan mengonsumsi rata-rata 1,2 hingga 1,7 gram MSG per hari, sementara di beberapa daerah di China, konsumsi bisa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara di Amerika atau Eropa yang hanya sekitar 0,5 gram per hari.

Menariknya, Jepang memiliki rata-rata IQ sebesar 106,48, sementara China berkisar antara 104,1 hingga 107,19, dan Korea Selatan antara 102,35 hingga 106,43. Dokter spesialis gizi, dr. Johanes Chandrawinata, SpGK, menyatakan bahwa anggapan bahwa micin membuat bodoh adalah mitos. Ia menjelaskan, "Anak jadi bodoh apa karena makan micin, itu tidak ada hubungan, itu mitos mungkin ya berbagai faktor anak jadi bodoh. Karena mungkin terlalu banyak main game atau lihat tv, nonton tv, terus nggak pernah belajar."

Selain itu, sebuah jurnal berjudul 'Effect of monosodium L-glutamate (umami substance) on cognitive function in people with dementia' menunjukkan bahwa konsumsi MSG secara rutin tidak menyebabkan penurunan fungsi kognitif, bahkan pada penderita demensia, jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Menariknya, ada indikasi bahwa MSG dapat membantu mempertahankan atau sedikit meningkatkan fungsi kognitif tertentu.

Ahli gizi, dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, juga menegaskan bahwa MSG bukanlah zat berbahaya jika dikonsumsi sesuai takaran. Ia menjelaskan bahwa MSG terbuat dari bahan alami melalui proses fermentasi yang menghasilkan protein glutamat secara alami dan diproses secara higienis. "Glutamat itu adalah zat gizi ya. Apakah glutamat itu racun atau berbahaya? Kita sepakat tidak beracun. Itu zat gizi yang merupakan amino esensial," tuturnya.

Meskipun mitos bahwa micin dapat membuat bodoh tidak benar, penting untuk mengonsumsi micin dalam batas yang wajar. World Health Organization (WHO) merekomendasikan asupan MSG yang aman bagi tubuh manusia adalah antara 0-120 mg/kgBB. Penelitian menunjukkan bahwa total asupan glutamat dari makanan di negara-negara Eropa umumnya stabil di kisaran 5-12 gram per hari.

// Artikel Terkait