Sunday, 16 August 2026
Kesehatan

Apakah Kanker Payudara pada Usia Muda Lebih Berbahaya? Ini Penjelasan dari Ahli

Korea Selatan mengalami lonjakan kasus kanker payudara, terutama di kalangan wanita muda. Para ahli menjelaskan bahwa usia bukan satu-satunya faktor penentu agresivitas kanker payudara.

D
Dimas Adhyaksa Putra
14 August 2026 33 pembaca
Ilustrasi (Foto: iStock)
Ilustrasi (Foto: iStock)

Korea Selatan saat ini menghadapi peningkatan jumlah kasus kanker payudara, termasuk di antara wanita yang berusia 30-an dan 40-an. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kanker payudara yang menyerang wanita muda mungkin memiliki sifat yang lebih agresif. Namun, apakah benar kanker payudara pada wanita muda cenderung lebih berbahaya?

Prof Lee Ji-eun, seorang pakar Onkologi Medis dari Seoul St Mary's Hospital, The Catholic University of Korea, menyatakan bahwa usia muda tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai apakah kanker payudara yang diderita seseorang lebih agresif. Dengan kata lain, diagnosis kanker payudara pada usia muda tidak secara otomatis menunjukkan bahwa penyakit tersebut lebih ganas. Ada berbagai faktor lain yang harus diperhatikan untuk menentukan karakteristik dan tingkat agresivitas kanker tersebut.

Fakta tentang Subtipe Kanker Payudara

Prof Lee menjelaskan, "Menjadi muda tidak secara otomatis berarti kanker yang diidap lebih agresif." Meskipun demikian, ia mengakui bahwa subtipe kanker payudara yang tergolong agresif memang lebih sering dijumpai pada wanita berusia 30-an dan 40-an. Data menunjukkan bahwa kanker payudara tipe triple-negative mencakup 22,8 persen dari total kasus pada pasien berusia 15 hingga 39 tahun, angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok usia 50 tahun ke atas yang hanya mencapai 11,7 persen.

Selain itu, proporsi kanker payudara jenis HER2-positif pada pasien muda juga lebih tinggi, yakni mencapai 28,2 persen, dibandingkan dengan 16,6 persen pada kelompok usia yang lebih tua. "Subtipe triple-negative dan HER2-positif yang cenderung lebih agresif memang ditemukan dengan proporsi lebih tinggi pada wanita muda. Hal inilah yang membuat kanker payudara pada wanita muda sering digambarkan agresif dan dianggap berkembang lebih cepat. Padahal, yang paling menentukan adalah subtipe dan stadium kankernya," jelas Prof Lee.

Pentingnya Pemahaman Subtipe Kanker

Pakar onkologi dari Gangnam Severance Hospital, Prof Kim Ji-hyung, memberikan tanggapan terhadap kepanikan yang sering dialami oleh pasien muda saat pertama kali didiagnosis. Ia menekankan pentingnya bagi pasien untuk memahami subtipe spesifik dari kanker yang mereka derita. "Kanker payudara terbagi ke dalam beberapa jenis yang khas. Strategi paling krusial saat ini adalah menentukan secara akurat pengobatan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masing-masing pasien," ungkap Prof Kim.

Ia menambahkan, "Bahkan pada stadium awal, ada pasien yang tidak membutuhkan kemoterapi, sementara yang lain justru sangat membutuhkannya. Keputusan terapi yang tepat adalah kuncinya." Prof Kim juga mendorong pasien yang terdiagnosis dengan subtipe agresif seperti triple-negative atau HER2-positif untuk tidak merasa putus asa, karena penanganan medis saat ini telah berkembang pesat. "Untuk kanker yang agresif, strategi terapinya kini sudah berubah. Alih-alih langsung melakukan tindakan pembedahan atau operasi, kami dapat menerapkan pendekatan seperti kemoterapi neoadjuvan terlebih dahulu untuk mengecilkan tumor," jelasnya.

Prof Lee menambahkan bahwa respons pengobatan dapat bervariasi antara pasien. Ia menekankan bahwa pasien dengan subtipe triple-negative maupun metastatik sekalipun tetap memiliki peluang besar untuk mencapai stabilitas. Bahkan, mereka bisa bebas dari kekambuhan dalam jangka panjang berkat adanya terapi target.

Ia mengimbau agar pasien yang baru terdiagnosis fokus untuk memahami kondisi penyakit mereka melalui diskusi dengan tim medis, daripada panik akibat membaca informasi yang mungkin tidak akurat di internet. "Saat terdiagnosis, orang-orang sering kali panik dan mencari informasi dalam jumlah sangat besar di internet. Padahal yang paling penting adalah memahami subtipe apa yang dimiliki, lalu mendiskusikan rencana pengobatan terbaik bersama tim dokter," tutup Prof Lee.

// Artikel Terkait