Saturday, 15 August 2026
Politik & Hukum

Anjloknya Elektabilitas Prabowo: Analisis Arogansi dalam Kepemimpinan

Pengamat politik Ubedilah Badrun mengungkapkan bahwa penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto disebabkan oleh kurangnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya, yang dipengaruhi oleh gaya...

D
Dewi Kartika Lestari
07 August 2026 73 pembaca
Pengamat Sebut Elektabilitas Prabowo Anjlok karena Arogansi
Pengamat Sebut Elektabilitas Prabowo Anjlok karena Arogansi
jpnn.com Sumber: jpnn.com

JAKARTA - Ubedilah Badrun, seorang pengamat politik, menyatakan bahwa turunnya angka kepuasan masyarakat dan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto disebabkan oleh hilangnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan mantan Menteri Pertahanan tersebut. "Realitas tersebut sesungguhnya menunjukkan makin tergerusnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Prabowo," ungkapnya melalui pesan pada Kamis (6/8).

Arogansi dalam Gaya Pidato

Ubed menyoroti bahwa salah satu faktor yang membuat publik ragu terhadap kepemimpinan Prabowo adalah cara dia berpidato. "Nah, yang paling terlihat publik itu pidato-pidato Prabowo yang seringkali buruk, minim empati," ujarnya. Ia berpendapat bahwa Prabowo sering menggunakan bahasa yang ceplas-ceplos dan terkesan kasar, serta tampak tidak mau menerima kritik dari masyarakat. "Performa tersebut oleh publik terlihat arogan atau sombong karena tidak mau mendengar kritik dari publik," lanjutnya.

Pengabaian Nasihat dan Prinsip Good Governance

Menurut Ubed, gaya pidato Prabowo menunjukkan pengabaian terhadap nasihat dari orang-orang terdekatnya mengenai pentingnya menggunakan teks saat berpidato. "Diabaikan secara terang benderang, Prabowo menceritakan penolakan menggunakan teks tersebut dalam pidatonya beberapa waktu terakhir ini," kata Ubed. Dia juga menilai langkah politik Prabowo tidak cermat dan mengabaikan prinsip-prinsip good governance, sehingga publik semakin kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Ubed menegaskan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, penurunan kepercayaan publik terhadap Prabowo akan terus berlanjut, yang pada gilirannya akan berdampak negatif pada elektabilitasnya. "Maka, kecenderungan memburuknya kepercayaan publik terhadap Prabowo akan terus terjadi hingga berdampak terhadap makin tergerusnya elektabilitas Prabowo," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa Prabowo seharusnya tidak mengabaikan saran untuk menggunakan teks dalam pidato dan perlu mengurangi kesombongan agar dapat mengembalikan kepercayaan publik. "Solusinya bagi Presiden yang sombong ialah diingatkan untuk mengurangi kesombongannya, mau mendengar masukan dari pikiran yang berbeda. Jika tidak bisa berubah, sangat sulit kita berharap akan adanya perbaikan di pemerintahan ini," tuturnya.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat bahwa penurunan elektabilitas Prabowo sejalan dengan menurunnya kepercayaan publik terhadap kinerjanya. "Penurunan elektabilitas Prabowo dalam sembilan bulan terakhir konsisten dengan turunnya evaluasi positif publik atas kinerjanya sebagai presiden," demikian rilis yang disampaikan peneliti SMRC, Saidiman Ahmad, pada Rabu (29/7).

SMRC juga mencatat bahwa penurunan elektabilitas Prabowo berkorelasi dengan menurunnya kepuasan publik terhadap kondisi politik, hukum, serta program-program unggulan yang diusung oleh eks Danjen Kopassus tersebut. "Merosotnya sentimen positif atas kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, dan program-program prioritas presiden," demikian rilis survei tersebut.

Angka kepuasan publik terhadap Prabowo dari November 2025 yang mencapai 43,5 persen, meningkat menjadi 48,4 persen pada Februari-Maret 2026, dan menguat sebesar 61,1 persen pada Juli 2026.

// Artikel Terkait