Wednesday, 10 June 2026
Politik & Hukum

Analisis Masa Depan PSI di Bawah Bayang-Bayang Jokowi

Pengamat politik menilai bahwa upaya Presiden Joko Widodo untuk mendukung PSI dalam pemilu mendatang tidak akan cukup untuk meningkatkan elektabilitas partai tersebut.

R
Rangga Wijaya Kusuma
18 May 2026 14 pembaca
Analisis Masa Depan PSI di Bawah Bayang-Bayang Jokowi
Pengamat Anggap Masa Keemasan Jokowi Sudah Habis, Sulit Mendongkrak Elektabilitas PSI
jpnn.com Sumber: jpnn.com

Pengamat politik Jamiluddin Ritonga berpendapat bahwa kunjungan Presiden Joko Widodo ke berbagai daerah di Indonesia yang dimulai pada Juni 2026 bertujuan untuk membantu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) lolos ke Senayan. Jamiluddin menjelaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan bagian dari komitmen Jokowi yang diungkapkan saat Rakernas PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 31 Januari 2026.

“Jokowi berkomitmen untuk bekerja keras dalam membesarkan PSI dengan berkeliling Indonesia,” ungkap Jamiluddin melalui pesan singkat pada Sabtu (16/5). Menurutnya, PSI sangat membutuhkan dukungan Jokowi, karena tidak ada kader partai yang memiliki kemampuan cukup untuk menarik massa, termasuk ketua umum mereka, Kaesang Pangarep.

Harapan dan Tantangan PSI

Jamiluddin mencatat bahwa meskipun petinggi PSI seperti Kaesang Pangarep dan Ahmad Ali telah melakukan perjalanan ke berbagai daerah, elektabilitas partai tersebut belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. “PSI tampaknya hanya bisa berharap pada Jokowi agar ambisinya untuk masuk Senayan dapat terwujud,” jelasnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa mengandalkan satu figur seperti Jokowi untuk mencapai tujuan tersebut adalah langkah yang berisiko. “PSI sebenarnya bersikap spekulatif dengan mengandalkan Jokowi demi lolos ke Senayan,” katanya.

Masa Keemasan Jokowi dan Dampaknya

Jamiluddin menilai bahwa masa keemasan Jokowi sudah berada di ambang akhir. Ia menyatakan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut kini menjadi sosok yang kontroversial, termasuk terkait dengan isu ijazahnya. “Hanya segelintir orang yang masih mengagumi Jokowi, dan mereka tidak cukup signifikan untuk membantu Presiden dalam membesarkan PSI,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa mengharapkan Jokowi untuk meningkatkan elektabilitas PSI bisa berujung pada kekecewaan. “PSI justru bisa menghadapi masalah jika terlalu bergantung pada Jokowi untuk mencapai tujuan mereka dalam pemilu 2029,” ungkapnya. Jamiluddin juga menambahkan bahwa bisa jadi semakin banyak masyarakat yang merasa antipati terhadap PSI.

Dia menyarankan agar PSI mempertimbangkan dengan cermat keuntungan dan kerugian dari keputusan untuk membiarkan Jokowi berkeliling Indonesia dengan membawa panji partai mereka. “Jangan sampai PSI kembali gagal masuk Senayan hanya karena salah dalam menilai kekuatan Jokowi,” pungkasnya.

// Artikel Terkait