Wednesday, 10 June 2026
Tekno

Transformasi Militer AS: Pentagon Kerja Sama dengan SpaceX dan Nvidia

Departemen Pertahanan Amerika Serikat menjalin kesepakatan dengan tujuh perusahaan teknologi terkemuka untuk memanfaatkan kecerdasan buatan dalam jaringan militer yang rahasia.

I
Intan Permatasari
04 May 2026 16 pembaca
Transformasi Militer AS: Pentagon Kerja Sama dengan SpaceX dan Nvidia
Ilustrasi. Pentagon tandatangani kesepakatan dengan tujuh raksasa teknologi untuk integrasi AI guna mentransformasi militer mereka. (Foto: Getty Images via AFP/TOM BRENNER)

Jakarta, CNN Indonesia -- Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini menandatangani perjanjian dengan tujuh perusahaan teknologi besar untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam jaringan militer yang bersifat rahasia. Kesepakatan ini tidak melibatkan Anthropic, yang sebelumnya menjadi satu-satunya mitra AI Pentagon.


Pentagon mengumumkan kesepakatan tersebut pada hari Jumat (1/5) dengan perusahaan-perusahaan seperti SpaceX, OpenAI, Google, Microsoft, Nvidia, Amazon Web Services, dan Reflection. Anthropic tidak dilibatkan karena perusahaan tersebut menolak ketentuan yang memungkinkan penggunaan model AI mereka, Claude, untuk "semua tujuan yang sah," termasuk senjata otonom dan pengawasan massal. Pentagon sebelumnya juga menganggap Anthropic sebagai "risiko rantai pasok," sebuah label yang biasanya diberikan kepada entitas yang terkait dengan musuh asing.


Pengecualian tersebut berdampak signifikan secara finansial bagi Anthropic, terutama setelah Undang-Undang One Big Beautiful Bill yang mengalokasikan dana besar untuk Pentagon dalam bidang AI dan operasi siber ofensif. Sejak saat itu, banyak perusahaan teknologi berlomba-lomba untuk mendapatkan akses ke dana tersebut. Namun, Gedung Putih telah membuka kembali pembicaraan dengan Anthropic dalam beberapa minggu terakhir setelah perusahaan tersebut melaporkan beberapa terobosan teknologi penting.


Pentagon menekankan bahwa kesepakatan ini merupakan bagian dari transformasi besar dalam militer AS. Teknologi AI yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut akan digunakan untuk "penggunaan operasional yang sah." Dalam pernyataannya, Pentagon menyebutkan bahwa perjanjian ini akan menjadikan militer sebagai kekuatan tempur yang lebih mengutamakan AI, serta memperkuat kemampuan prajurit dalam pengambilan keputusan di berbagai arena pertempuran.


Pentagon juga menggarisbawahi keberhasilan platform GenAI.mil, yang telah digunakan oleh 1,3 juta personel Departemen Pertahanan. Militer AS telah mulai memanfaatkan berbagai alat kecerdasan buatan untuk meningkatkan efektivitas serangan mereka. Dalam konflik dengan Iran, militer AS menggunakan AI untuk menyerang 1.000 target dalam waktu 24 jam pertama.


Menurut Komando Pusat AS, teknologi AI berperan penting dalam mengelola data dalam jumlah besar dengan cepat selama operasi melawan Iran. Kapten Timothy Hawkins, juru bicara Komando Pusat, menjelaskan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu dalam penyaringan awal data, sehingga analis manusia dapat lebih fokus pada analisis dan verifikasi yang lebih mendalam dalam serangan tersebut. Hawkins menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan analis manusia dalam setiap operasi.


Dengan langkah ini, Pentagon menunjukkan komitmennya untuk memanfaatkan teknologi mutakhir dalam meningkatkan kemampuan operasional militer, dan perkembangan lebih lanjut diharapkan akan terus terjadi seiring dengan kemajuan teknologi AI.


// Artikel Terkait