Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pasokan Pertalite dan biodiesel di Jakarta akan tetap terjaga hingga akhir tahun. Hal ini disebabkan oleh harga minyak yang berada di bawah 100 dolar AS per barel serta pemanfaatan batu bara domestik. Stabilitas energi dan inflasi yang tercatat sebesar 2,88 persen mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,45 persen pada semester pertama tahun 2026.
Pasokan Energi yang Aman di Tengah Ketidakpastian Global
Pasokan Pertalite dan biodiesel di Indonesia dipastikan aman meskipun konflik global masih berlangsung dan mempengaruhi harga energi secara internasional. Airlangga Hartarto menegaskan bahwa harga pembelian minyak mentah Indonesia saat ini masih di kisaran 91 dolar AS per barel, dan ia memperkirakan harga tersebut akan bertahan hingga akhir tahun. "Itu relatif sampai akhir tahun, at least Pertalite dan biodiesel aman," ungkapnya di Jakarta pada Selasa, 11 Agustus 2026, saat acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) 2026.
Menurutnya, dengan kondisi harga yang ada, pemerintah dapat menjaga stabilitas pasokan energi tanpa menghadapi tekanan signifikan terhadap kebutuhan bahan bakar domestik. "Jadi bagi Indonesia relatif, Indonesia masih melihat dengan situasi harga minyak yang tidak di atas 100 (dolar Amerika Serikat per barel)," tambahnya.
Pembangkit Listrik dan Sumber Energi Domestik
Airlangga juga menyampaikan bahwa pasokan listrik nasional tergolong aman, karena sebagian besar pembangkit listrik masih mengandalkan sumber energi dalam negeri, yaitu batu bara. Penggunaan batu bara sebagai sumber utama energi membantu Indonesia terhindar dari lonjakan biaya pembangkitan listrik yang disebabkan oleh fluktuasi harga energi di pasar internasional. "Dan yang lain, tentu kalau masalah listrik, itu kita kebanyakan dibiayai oleh indigenous energy, yaitu batu bara. Sehingga juga tidak ada lonjakan harga dari batu bara," jelasnya.
Untuk kebutuhan gasoline di sektor hilir, Airlangga menyebutkan bahwa pasokan Indonesia berasal dari Singapura melalui Selat Malaka, sehingga tidak tergantung pada jalur pengiriman melalui Selat Hormuz. Ia menambahkan bahwa struktur pasokan energi ini membantu Indonesia mengurangi dampak gejolak geopolitik, sehingga aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan dengan baik sepanjang semester pertama tahun ini.
Airlangga menekankan bahwa kemampuan menjaga stabilitas energi berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,45 persen pada semester pertama, menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam hal pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN dan G20. "Jadi ini relatif (baik) dibandingkan berbagai negara ASEAN ataupun G20, Indonesia masih top three atau top two," ujarnya.
Selain itu, Airlangga mengungkapkan bahwa inflasi di Indonesia tetap terjaga pada level 2,88 persen, meskipun banyak negara lain mengalami kenaikan harga akibat lonjakan harga minyak global. Ia menekankan pentingnya stabilitas pasokan energi dan inflasi yang terjaga sebagai modal bagi Indonesia untuk mempertahankan ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. "Jadi berbagai negara tentu dengan transmisi dari pada harga minyak, inflasinya tinggi, tapi Indonesia alhamdulillah kita masih bisa menjaga angka inflasi yang ada," tutupnya.