Wednesday, 10 June 2026
Finansial

Purbaya Alokasikan Rp 2 Triliun Setiap Hari untuk Stabilkan Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menginvestasikan Rp 2 triliun setiap hari dalam pembelian obligasi untuk menjaga nilai tukar Rupiah yang melemah. Langkah ini dimulai pada 19 Mei 2026 dan bertuju...

N
Naufal Akbar Abdila
19 May 2026 20 pembaca
Purbaya Alokasikan Rp 2 Triliun Setiap Hari untuk Stabilkan Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Suara.com/Novian]
suara.com Sumber: suara.com

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 2 triliun setiap hari untuk membeli obligasi, dengan tujuan untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah yang mengalami penurunan. Langkah intervensi ini dimulai pada 19 Mei 2026, ketika nilai tukar Rupiah berada di level Rp 17.685 per Dolar AS pada pembukaan perdagangan.

Purbaya menjelaskan bahwa upaya untuk memperkuat Rupiah dilakukan melalui pasar obligasi, dan ia mencatat bahwa investor asing sudah mulai kembali berinvestasi dalam surat utang pemerintah. "Kita sudah masuk ke bond market bertahap, ya. Asing juga udah masuk juga jadi harusnya sih ke depan akan minggu-minggu ini akan lebih stabil. Saya akan masuk setiap hari bond market," ungkapnya saat berada di Istana Negara.

Sumber Pendanaan dan Manajemen Keuangan

Ketika ditanya mengenai dana yang digunakan untuk memasuki pasar obligasi, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan Rp 2 triliun setiap hari. "Ah, pengen tahu aja lah. Saya minta masuk Rp 2 triliun setiap hari," tambahnya.

Purbaya juga menjelaskan bahwa pemerintah memiliki banyak dana, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp 420 triliun. Ia menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari manajemen keuangan dan tidak akan menghilangkan uang tersebut, melainkan hanya diputar untuk menciptakan sentimen positif di pasar obligasi.

Stabilitas Pasar Obligasi dan Potensi Keuntungan

Bendahara Negara tersebut meyakini bahwa langkah ini dapat menciptakan sentimen positif yang akan menarik kembali investor asing ke pasar obligasi, sehingga nilai tukar Rupiah dapat kembali stabil. Ia menjelaskan bahwa jika harga obligasi stabil, maka yield atau imbal hasilnya juga akan turun, yang menunjukkan potensi kenaikan harga obligasi.

"Artinya kalau stabil kan kalau memang yield-nya turun kita targetkan bisa turun. Kalau yield-nya turun kan berarti harga bond-nya naik. Nanti ada potensi capital gain. Jadi harusnya sih pasar bond kita menarik," jelasnya.

Purbaya tidak memberikan rincian mengenai berapa lama pemerintah akan terlibat di pasar obligasi atau skema yang akan diterapkan. "Kita lihat seberapa jauh kita butuhkan masuk ke sana. Kan saya punya Rp 420 triliun cash yang bisa saya bisa putar di sana, bisa juga saya putar uang cash saya ke sana, jadi cukup bisa berkesinambungan dilakukan," tuturnya.

Selain itu, Purbaya juga menyampaikan bahwa ia akan mengaktifkan Dana Stabilisasi Obligasi untuk menjaga nilai tukar Rupiah yang menurun. Dana ini merupakan cadangan khusus yang disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara saat terjadi tekanan besar, seperti pelarian modal asing yang dapat memicu krisis. "Di Pemerintah saya punya bond stabilization fund sendiri yang ada beberapa pihak, tetapi kita juga bisa mencukupi dengan saya sendiri untuk sementara. Jadi cukup," pungkasnya.

// Artikel Terkait