Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dan menjadi tanda keberhasilan Indonesia dalam mengatasi tantangan ekonomi yang sering terjebak di angka lima persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi data tersebut dengan optimisme, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berhasil mencapai target ini membuat suasana konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 lebih nyaman. Ia mengungkapkan bahwa sebelum pengumuman BPS, ia merasa cemas dan tidak bisa tidur memikirkan apakah target tersebut tercapai. Purbaya menilai bahwa pencapaian ini adalah prestasi yang luar biasa, terutama di tengah gejolak ekonomi global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa pertumbuhan 5,61 persen merupakan peningkatan signifikan dibandingkan dengan 5,39 persen pada triwulan keempat 2025. Ia percaya bahwa Indonesia kini telah terlepas dari 'kutukan' pertumbuhan ekonomi lima persen. Purbaya menekankan pentingnya dukungan terhadap sektor ekspor untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, meskipun tantangan global masih ada. Ia berkomitmen untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor tetap kompetitif di pasar global.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menambahkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan pertama 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun berdasarkan harga berlaku, dan Rp3.447,7 triliun berdasarkan harga konstan. Meskipun pertumbuhan tahunan menunjukkan penguatan, secara kuartalan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan triwulan IV 2025, yang dianggap sebagai pola musiman.
Dengan hasil ini, perkembangan ekonomi Indonesia diharapkan terus menunjukkan tren positif, meskipun tantangan dari kondisi global masih perlu diwaspadai.