Sunday, 17 May 2026
Finansial

Penutupan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Dunia Mencapai US$ 126 Per Barel

Harga minyak Brent melonjak hingga US$ 126 per barel akibat penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan, memicu kelangkaan barang dan ancaman resesi global.

R
Rangga Wijaya Kusuma
01 May 2026 13 pembaca
Penutupan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Dunia Mencapai US$ 126 Per Barel
Ilustrasi harga minyak dunia meningkat. (Shutterstock)
suara.com Sumber: suara.com

Harga minyak mentah Brent mengalami lonjakan signifikan, mencapai US$ 126 per barel, menyusul penutupan Selat Hormuz yang disebabkan oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan ini menciptakan dampak yang luas terhadap perekonomian global.


Menurut laporan yang dirilis CNN, pada perdagangan Kamis (30/4), harga minyak Brent sempat menyentuh angka tertinggi dalam empat tahun terakhir, yaitu US$ 126,41 per barel. Meskipun harga kemudian turun menjadi US$ 115,8 akibat berkurangnya volume perdagangan, angka tersebut tetap menunjukkan adanya ancaman bagi stabilitas ekonomi dunia. Sebelum ketegangan antara AS dan Iran meningkat, harga minyak Brent berada pada kisaran US$ 73 per barel, yang berarti terjadi hampir dua kali lipat kenaikan harga dalam waktu singkat.


Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,7% menjadi US$ 106 per barel. Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin kini mencapai US$ 4,30 per liter, yang setara dengan Rp 19.687 per liter berdasarkan kurs Rp 17.307 per dolar AS.


Kenaikan harga minyak ini tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga mempengaruhi produk turunan minyak seperti plastik, karet sintetis, dan tekstil. Kelangkaan barang mulai terasa di pasar Asia, dengan stok sarung tangan medis, mi instan, dan kosmetik yang menipis akibat tingginya biaya produksi dan gangguan rantai pasok. Mengingat Asia adalah pusat produksi barang dan importir energi terbesar, kondisi ini diprediksi akan meluas ke wilayah lain.


Para ekonom memperingatkan bahwa jika gangguan pasokan di Selat Hormuz terus berlanjut hingga paruh kedua 2026, resesi global dapat menjadi kenyataan. Inflasi yang tinggi dan penurunan daya beli konsumen menjadi ancaman yang semakin nyata. "Harga minyak tidak punya pilihan selain naik sampai pembukaan kembali selat secara permanen terwujud," ungkap Vandana Hari, pendiri Vanda Insights.


Dunia kini menunggu dengan harapan agar ketegangan di Teluk dapat mereda sebelum perekonomian global mengalami keruntuhan lebih lanjut.


// Artikel Terkait