Sunday, 17 May 2026
Finansial

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada triwulan pertama 2026, didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

A
Aulia Rahmawati
15 May 2026 4 pembaca
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Antara]
suara.com Sumber: suara.com

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada triwulan pertama tahun 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sebesar 2,94 persen, diikuti oleh investasi dan belanja pemerintah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tercatat tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga ketimbang belanja pemerintah. Ia menyatakan bahwa kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 berasal dari konsumsi rumah tangga yang mencapai 2,94 persen. “Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,” ungkapnya dalam siaran pers yang dirilis pada Jumat, 15 Mei 2026.

Investasi dan Belanja Pemerintah

Selain konsumsi rumah tangga, investasi juga berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi sebesar 1,79 persen. Belanja pemerintah berada di urutan ketiga dengan kontribusi 1,26 persen. Purbaya menjelaskan bahwa penting untuk memahami struktur pertumbuhan ekonomi berdasarkan kontribusi masing-masing komponen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). “Kontribusi pertumbuhan dihitung dari pertumbuhan masing-masing komponen dikalikan dengan pangsanya terhadap perekonomian. Dari perhitungan tersebut, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Strategi Percepatan Belanja Negara

Purbaya juga menambahkan bahwa pertumbuhan belanja pemerintah di awal tahun merupakan bagian dari strategi untuk mempercepat realisasi belanja negara, sehingga dampak ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata sepanjang tahun. Sebelumnya, pola belanja pemerintah cenderung terkonsentrasi pada akhir tahun, namun kini diarahkan untuk terealisasi lebih awal agar dapat mendukung aktivitas ekonomi secara optimal.

Lebih lanjut, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah terus menjalankan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi serta memperkuat daya beli masyarakat. Langkah ini dilakukan melalui percepatan realisasi belanja Kementerian/Lembaga dan pelaksanaan berbagai program prioritas nasional sejak awal tahun.

Berdasarkan laporan BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan dengan 4,87 persen pada periode yang sama tahun lalu. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa capaian ini tercermin dari PDB Indonesia yang mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku, sementara atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.

“Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran PDB pada triwulan satu 2026 atas dasar harga berlaku sebesar 6.187,2 triliun rupiah, atas dasar harga konstan 3.447,7 triliun rupiah, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan satu 2026 bila dibandingkan triwulan satu 2025 atau secara year on year tumbuh 5,61 persen,” jelas Amalia di Kantor BPS RI, Jakarta, pada Selasa, 5 Mei 2026. Meskipun pertumbuhan tahunan menunjukkan hasil yang kuat, secara kuartalan, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan triwulan IV 2025. “Secara triwulanan, ekonomi Indonesia triwulan satu 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen,” tambahnya.

// Artikel Terkait