Sunday, 17 May 2026
Kesehatan

Kisah Edi Utomo: Pemuda Tuban Berjuang Melawan Gagal Ginjal di Usia Muda

Edi Utomo, seorang pemuda berusia 26 tahun dari Tuban, mengalami gagal ginjal kronis stadium 5 dan harus menjalani cuci darah secara rutin. Ia membagikan pengalamannya untuk meningkatkan kesadaran mas...

L
Lucas Fabian
11 May 2026 8 pembaca
Kisah Edi Utomo: Pemuda Tuban Berjuang Melawan Gagal Ginjal di Usia Muda
Pemuda idap gagal ginjal di usia muda. (Foto: IG @edipaeji dengan izin yang bersangkutan)

Jakarta - Edi Utomo (26) menjadi sorotan di media sosial Instagram setelah mengungkapkan pengalamannya berjuang melawan gagal ginjal kronis stadium 5 yang dialaminya di usia muda. Diagnosa pertama kali diterimanya pada tahun 2019, dan sejak saat itu, ia harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu. Edi memperkirakan telah menjalani prosedur cuci darah hampir 700 kali. Melalui akun Instagramnya @edipaeji, ia berharap kisahnya bisa memberikan edukasi dan pelajaran bagi masyarakat agar tidak mengalami hal serupa.

Kebiasaan Makan yang Berbahaya

Edi menjelaskan bahwa gagal ginjal kronis yang dideritanya disebabkan oleh hipertensi, yang menurutnya berkaitan erat dengan kebiasaannya mengonsumsi mi instan. Ia mengaku sering mengkonsumsi mi instan hampir setiap hari, bahkan lebih dari dua bungkus dalam satu waktu, sejak kecil.

"Aku tidak merokok dan tidak minum kopi. Jadi yang menyebabkan hipertensi aku itu kebanyakan makan mi instan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa bumbu mi instan yang tinggi kadar garamnya dapat meningkatkan tekanan darah, yang berujung pada hipertensi. "Mi instan itu kan bumbunya asin banget. Nah, natrium itu bikin tensi naik, jadi hipertensi. Aku kalau makan mi instan itu hampir setiap hari dan itu biasanya lebih dari satu. Itu terjadi selama aku masih kecil sampai gede," jelasnya, mengingatkan pentingnya mengutamakan konsumsi makanan segar dibandingkan makanan olahan.

Gejala Awal yang Terabaikan

Sebelum didiagnosis dengan gagal ginjal, Edi mengalami beberapa gejala yang dianggapnya sepele. Awalnya, ia merasa meriang ketika berada di depan kipas angin. Beberapa bulan kemudian, ia merasakan penurunan energi yang signifikan, membuatnya sering merasa lelah tanpa alasan yang jelas.

"Sekitar 2-3 bulan dari yang kayak berasa meriang, ini tenaga juga habis, beda kayak biasanya," ungkapnya. Edi juga mengalami mual dan muntah, yang ia kira sebagai gejala masuk angin biasa. Ia bahkan sempat mengonsumsi obat untuk mengatasi masalah tersebut, tetapi kondisinya tidak kunjung membaik.

Setelah beberapa bulan, Edi mengalami nyeri perut yang membuatnya harus pergi ke rumah sakit. Di sana, dokter menemukan bahwa ia sudah berada di stadium 5 gagal ginjal. "Tensi udah tinggi banget di 200-an, langsung stage 5 harus wajib cuci darah. Dan kalau gagal ginjal kronis karena hipertensi rata-rata nggak ada gejala, langsung drop gitu aja," tuturnya.

Kondisi Terkini dan Perubahan Gaya Hidup

Setelah rutin menjalani cuci darah, kondisi Edi kini jauh lebih stabil. Meski demikian, ia masih merasakan kelelahan yang lebih cepat saat beraktivitas. "Gejala yang dirasakan sekarang mungkin gampang capek aja. Cuci darah seminggu 2 kali. Total udah hampir 700 kali," katanya.

Edi juga mengonsumsi obat untuk hipertensi dan harus mematuhi beberapa pantangan makanan serta aktivitas fisik. Ia harus membatasi asupan makanan yang tinggi kalium, fosfor, purin, kolesterol, dan natrium, serta tidak bisa mengonsumsi beberapa jenis sayur dan buah, termasuk belimbing. Selain itu, ia juga harus menghindari daging, susu, kacang, dan produk olahan lainnya.

"Untuk aktivitas nggak boleh angkat-angkat berat di lengan yang ada ciminonya (akses pembuluh darah untuk cuci darah)," tambahnya.

// Artikel Terkait