Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi bulanan Indonesia untuk April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen, angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi Maret yang mencapai 0,41 persen. Inflasi tahunan kalender (year to date) juga menunjukkan angka 1,06 persen.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan kontribusi sebesar 0,12 persen. Kenaikan tarif angkutan udara domestik menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi dalam kelompok ini, dengan andil inflasi mencapai 0,11 persen. Selain itu, harga bensin juga berkontribusi dengan andil sebesar 0,02 persen.
Selain sektor transportasi, beberapa komoditas lain turut memberikan andil terhadap inflasi, seperti minyak goreng yang menyumbang 0,05 persen dan tomat dengan andil 0,03 persen. Sementara itu, beras dan nasi dengan lauk masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen. Di sisi lain, Ateng juga mencatat adanya komoditas yang mengalami deflasi, termasuk daging ayam ras yang berkontribusi negatif sebesar 0,11 persen dan emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen.
Dengan data ini, BPS menunjukkan adanya dinamika dalam komponen inflasi yang dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi ke depan. Pengamatan lebih lanjut terhadap faktor-faktor penyebab inflasi dan deflasi akan terus dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi ekonomi nasional.