Wednesday, 10 June 2026
Finansial

IHSG Tertekan di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global dan Kinerja Bursa Asia yang Berbeda

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi kemungkinan koreksi akibat aksi jual bersih dari investor asing, sementara bursa Asia menunjukkan tren positif. Ketegangan antara AS dan Iran turut mempen...

N
Nabila Safira Putri
08 May 2026 10 pembaca
IHSG Tertekan di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global dan Kinerja Bursa Asia yang Berbeda
Arsip Pergerakan IHSG [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym].
suara.com Sumber: suara.com

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami penurunan seiring dengan aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing pada saham-saham perbankan besar. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran telah memberikan dampak negatif pada Wall Street dan menyebabkan penurunan harga minyak mentah Brent. Di sisi lain, bursa Asia mencatatkan kenaikan yang signifikan, seiring dengan harapan akan stabilitas regional dan optimisme di sektor manufaktur global.

Pasar modal Indonesia saat ini berada dalam situasi yang penuh kehati-hatian. Setelah mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,15% pada perdagangan sebelumnya, IHSG kini dihadapkan pada potensi koreksi. Investor asing dilaporkan melakukan aksi jual bersih sekitar Rp360 miliar, dengan saham-saham perbankan besar seperti BMRI dan BBCA menjadi fokus utama pelepasan aset. Hal ini mencerminkan dinamika psikologi pasar yang sedang berlangsung. Meskipun ada dorongan optimisme dari regional, ketidakpastian yang menyelimuti pasar global terkait isu energi dan politik internasional membuat investor cenderung berhati-hati.

Pengaruh Ketegangan Geopolitik terhadap Wall Street

Pelemahan IHSG pada hari ini tidak terlepas dari sentimen negatif yang melanda bursa AS, khususnya Wall Street. Indeks S&P 500 mengalami koreksi sebesar 0,38%, sementara Dow Jones melemah hingga 0,63%. Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada negosiasi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, yang kembali memanas. Gedung Putih dilaporkan tengah menyiapkan nota kesepahaman 14 poin untuk meredakan konflik dan membuka kembali pembicaraan terkait program nuklir. Namun, Iran tampaknya masih enggan memberikan jawaban yang jelas.

Tuntutan kompensasi atas kerugian akibat perang dan penolakan Iran terhadap skema pembukaan Selat Hormuz yang dianggap tidak realistis semakin meningkatkan ketegangan risiko di pasar global. Akibatnya, harga minyak mentah Brent turun sebesar 1,19% menjadi US$100,06 per barel, yang berdampak pada penurunan saham di sektor teknologi dan semikonduktor.

Kenaikan Bursa Asia di Tengah Ketidakpastian

Berbeda dengan kondisi di Amerika, bursa di kawasan Asia justru mengalami lonjakan yang signifikan. Indeks Nikkei 225 Jepang mencatat kenaikan luar biasa sebesar 5,58%, didorong oleh sektor bahan baku dan teknologi setelah libur panjang. Indeks Hang Seng dan Kospi juga menunjukkan tren positif. Kenaikan di bursa Asia ini terjadi setelah Presiden Donald Trump memberikan peringatan tegas kepada Iran terkait kesepakatan perdamaian, menunjukkan bahwa pasar Asia lebih memilih untuk merespons potensi stabilitas yang mungkin muncul jika kesepakatan dapat tercapai.

Fanny Suherman, Kepala Riset Retail di BNI Sekuritas, memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi mengalami tekanan koreksi pada perdagangan hari ini. Secara teknikal, level Support IHSG berada di rentang 7000-7100, sementara area Resist berada di antara 7200-7280.

// Artikel Terkait