JAKARTA, iNews.id - Kebiasaan mematikan alarm dan melanjutkan tidur di pagi hari dapat berdampak pada otak yang mengalami masa transisi sebelum benar-benar aktif. Fenomena ini dikenal dengan istilah sleep inertia, yang dapat menyebabkan seseorang merasa pusing, kesulitan berpikir jernih, bahkan mengalami mimpi yang terasa sangat nyata saat bangun kembali.
Dokter spesialis penyakit dalam dengan fokus pada nefrologi, dr. Decsa Medika Hertanto, menjelaskan bahwa saat seseorang terbangun, tidak semua bagian otak langsung berfungsi secara bersamaan. Ia mengibaratkan kondisi ini seperti sebuah kantor dengan berbagai divisi yang memiliki waktu masuk berbeda. Bagian otak yang mengatur gerakan tubuh biasanya kembali aktif lebih cepat, sementara bagian yang bertanggung jawab atas pemikiran logis memerlukan waktu lebih lama untuk berfungsi sepenuhnya.
Pengalaman Nyata Saat Bangun Tidur
Dr. Decsa memberikan contoh, "Pernah nggak kalian udah bangun jam 5 pagi terus mikir, 'Tidur 30 menit lagi kayaknya enak dehβ eh pas bangun kedua kalinya, kalian baru ngalamin mimpi yang terasa nyata banget. Kadang nakutin, sampai bingung, βIni mimpi atau beneran?ββ Ucapnya, menyoroti pengalaman umum yang dialami banyak orang saat terbangun dari tidur.
Proses Kembali ke Keadaan Terjaga
Lebih lanjut, dr. Decsa menjelaskan bahwa sleep inertia adalah kondisi di mana otak belum sepenuhnya kembali ke keadaan terjaga setelah seseorang bangun dari tidur. Proses ini memerlukan waktu, dan selama periode tersebut, seseorang mungkin merasa bingung atau tidak fokus.
Dengan memahami dampak dari kebiasaan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam mengatur waktu tidur dan kebiasaan bangun pagi mereka.