Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah merumuskan larangan terhadap impor model baru komponen pusat data yang berasal dari China ke Amerika Serikat (AS). Menurut informasi dari empat sumber yang mengetahui rencana tersebut, kebijakan ini bertujuan untuk melindungi infrastruktur yang mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI). Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) sedang mempersiapkan regulasi yang akan melarang impor optical transceiver baru dari China.
Komponen ini berfungsi untuk memfasilitasi perpindahan data melalui kabel serat optik dengan kecepatan tinggi di dalam pusat data. Pejabat AS berharap bahwa peraturan ini dapat diterbitkan dan mulai berlaku dalam tahun ini. Larangan ini ditujukan untuk mencegah perusahaan-perusahaan asal China melakukan pencurian data, menyisipkan perangkat lunak berbahaya, atau mengganggu layanan pusat data di AS. Pusat data sendiri merupakan lokasi di mana chip digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI.
Risiko Keamanan dari Transceiver
Sumber yang sama menyebutkan bahwa FCC masih memiliki kemungkinan untuk mengubah atau membatalkan rencana tersebut. Divyansh Kaushik, seorang pakar kebijakan AI di Beacon Global Strategies, mengungkapkan bahwa transceiver dapat menimbulkan risiko keamanan. "Ketika pembangunan pusat data semakin besar, Anda ingin memastikan rantai pasok pusat data aman sejak awal," kata Kaushik.
Setelah berita ini beredar, saham beberapa produsen transceiver asal AS mengalami kenaikan. Saham Lumentum meningkat sebesar 7 persen, Coherent naik 11 persen, dan Applied Optoelectronics melonjak hingga 18 persen.
Reaksi China Terhadap Larangan
Kedutaan Besar China di Washington telah meminta AS untuk mendengarkan pandangan dari dunia usaha di kedua negara dan menghentikan tindakan yang mencemarkan nama perusahaan-perusahaan China serta ancaman sanksi. "China akan mengambil semua langkah yang diperlukan sebagai tanggapan terhadap tindakan apa pun yang menyebabkan kerugian material terhadap kepentingannya," ungkap kedutaan tersebut.
Larangan ini diperkirakan akan berdampak signifikan pada Zhongji Innolight, salah satu penjual transceiver terbesar di dunia, yang pada bulan Juni lalu dimasukkan ke dalam daftar perusahaan yang diduga mendapat dukungan militer dari China oleh Departemen Pertahanan AS. Innolight sendiri belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar. Menurut Counterpoint Research, perusahaan ini menguasai 27 persen pasar transceiver pusat data global.
Laporan dari Foundation for American Innovation menunjukkan bahwa Coherent dan Lumentum memiliki teknologi yang bersaing, namun tidak memiliki skala yang cukup untuk menggantikan vendor-vendor dari China. Diketahui bahwa Innolight memperoleh sekitar 90 persen pendapatannya dari luar China. Larangan ini juga berpotensi meningkatkan biaya bagi perusahaan-perusahaan komputasi awan di AS seperti Amazon Web Services.
Beberapa pejabat AS berupaya untuk mencegah terulangnya situasi yang mirip dengan kasus Huawei, di mana peralatan telekomunikasi dari perusahaan China tersebut telah terintegrasi secara luas dalam infrastruktur AS, sehingga proses pencabutannya menjadi lambat, mahal, dan tidak tuntas. FCC sebelumnya telah menerapkan pembatasan serupa terhadap drone, router, robot, dan inverter dari China. Menurut tiga sumber yang dikutip, lembaga tersebut akan melarang seluruh impor model baru transceiver dan memberikan pengecualian kepada banyak pemasok non-China.
Daftar pembatasan FCC atau Covered List dibentuk oleh Kongres untuk melarang penjualan perangkat baru dari perusahaan asing yang produknya dianggap menimbulkan risiko bagi keamanan nasional. FCC telah mengumumkan larangan terhadap drone dan router pada bulan Desember dan Maret, sementara pembatasan terhadap inverter dan robot diumumkan pada pekan lalu.