Normalisasi Situ Bulakan yang terletak di Kota Tangerang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Banten selama 20 hari, dengan penekanan pada pengerukan lumpur. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mencegah terjadinya banjir akibat sedimentasi alami serta untuk meningkatkan kapasitas tampung air.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni, mengungkapkan bahwa kegiatan normalisasi ini merupakan bagian dari upaya Pemprov Banten untuk mengatasi masalah banjir. Selain pengerukan, kegiatan ini juga mencakup pembersihan saluran air masuk dan keluar, sehingga distribusi air dapat terjaga, terutama saat curah hujan tinggi.
Harapan untuk Keberhasilan Normalisasi
Taufik berharap agar proses normalisasi dapat berjalan sesuai rencana dan target yang telah ditetapkan, yaitu selama 20 hari ke depan dengan pelaksanaan yang maksimal. "Kami berharap upaya normalisasi ini berjalan lancar sesuai dengan target yang ditentukan," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Tangerang.
Lebih lanjut, Pemkot Tangerang juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mitigasi banjir dengan menjaga kebersihan lingkungan dan merawat infrastruktur pengendali banjir. "Kami sudah siagakan pompa dan juga petugas. Selanjutnya, peran aktif warga menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan," jelas Taufik.
Pendangkalan dan Langkah Strategis
Sebelumnya, Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menyatakan bahwa pendangkalan di Situ Bulakan telah menyebabkan luapan air yang menggenangi jalan dan pemukiman di sekitarnya. Gubernur Banten, Andra Soni, dalam rapat koordinasi beberapa waktu lalu, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyusun langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah banjir di Tangerang Raya.
Pemerintah Provinsi Banten, bersama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWS Ciliwung Cisadane) serta pemerintah kabupaten dan kota, sepakat untuk melaksanakan program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat, termasuk melalui normalisasi sungai.