Sunday, 16 August 2026
Nasional

Transformasi Pembekalan Peserta SPPI Menuju Pendekatan Manajerial

Kementerian Pertahanan mengubah konsep pelatihan dasar kemiliteran untuk peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, berfokus pada pembekalan bela negara dan manajerial.

N
Naufal Akbar Abdila
02 July 2026 49 pembaca
Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan pelatihan diklat di Yogyakarta pada Rabu (17/6/2026). (Antara)
Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan pelatihan diklat di Yogyakarta pada Rabu (17/6/2026). (Antara)

Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah melakukan perubahan signifikan terhadap pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Perubahan ini mengalihkan fokus dari pelatihan militer tradisional menjadi pembekalan yang lebih menekankan pada aspek bela negara dan manajerial.

Kebijakan Baru untuk Peserta SPPI

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa dengan adanya perubahan ini, kebijakan yang berlaku menjadi lebih fleksibel. Salah satu contohnya adalah izin penggunaan telepon genggam bagi peserta, yang diizinkan pada waktu-waktu tertentu. Rico menyatakan, "Sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi psikologis peserta serta aspirasi dari keluarga, penyelenggara juga memberikan kebijakan penggunaan telepon genggam pada waktu-waktu yang telah ditentukan."

Penggunaan telepon genggam diharapkan dapat membantu peserta tetap terhubung dengan keluarga, memberikan kabar baik, serta meningkatkan semangat mereka selama mengikuti program pembekalan. Selain itu, peserta juga diperbolehkan menerima kiriman barang dari keluarga, sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan. "Kebijakan ini merupakan bentuk kepercayaan kepada peserta," tambahnya.

Pembekalan yang Berorientasi pada Karakter

Rico menekankan bahwa tujuan dari pembekalan ini bukanlah untuk melatih peserta menjadi prajurit atau komponen cadangan. Melainkan, lebih kepada membangun karakter disiplin, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, tanggung jawab, kerja sama, dan kesiapan manajerial sebagai calon pengelola koperasi. Dalam penyesuaian ini, materi teknis dan taktis militer telah dihapus, termasuk kegiatan menembak dan taktik regu senapan.

"Tidak ada lagi latihan fisik dalam pengertian latihan militer. Aktivitas yang ada hanya bersifat olahraga ringan untuk menjaga kebugaran seperti senam pagi atau jalan kaki ringan dengan tetap menyesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta," jelas Rico. Kemhan juga memperhatikan kesehatan peserta melalui pemantauan harian dan pemeriksaan bagi mereka yang memiliki risiko kesehatan tertentu.

Rico menegaskan bahwa prinsip utama dari seluruh penyesuaian ini adalah keselamatan dan kesehatan peserta. Meskipun demikian, esensi dari pembekalan tetap dijaga, yaitu menciptakan calon pengelola koperasi yang berkarakter, berintegritas, disiplin, dan memiliki jiwa kepemimpinan serta semangat bela negara.

// Artikel Terkait