Wednesday, 01 July 2026
Nasional

Tragedi di Latihan Dasar Kemiliteran: Tiga Peserta SPPI Meninggal Dunia

Tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat menjalani latihan dasar kemiliteran, dengan penyebab utama terkait kesehatan.

R
Reza Mahendra
25 June 2026 11 pembaca
Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan pelatihan diklat di lapangan Dirgantara AAU, Yogyakarta pada Rabu (17/6/2026). (Antara/Humas TNI AU)
Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan pelatihan diklat di lapangan Dirgantara AAU, Yogyakarta pada Rabu (17/6/2026). (Antara/Humas TNI AU)

Dalam sebuah insiden tragis, tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil). Penyebab kematian mereka sebagian besar disebabkan oleh masalah kesehatan.

Rutinitas Latihan Dasar Kemiliteran

Korps Marinir TNI AL menjelaskan tentang rutinitas yang dijalani oleh peserta latsarmil yang merupakan calon pengelola Koperasi Merah Putih. Letkol (Mar) Agus Mutaqin, selaku Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak, menyatakan bahwa kegiatan dimulai dengan bangun pagi pada pukul 04.30 WIB. Setelah itu, peserta melaksanakan ibadah salat Subuh sebelum melanjutkan dengan kegiatan olahraga dan pembinaan fisik, diakhiri dengan sarapan pagi.

Setelah sarapan, peserta mengikuti apel pagi, dilanjutkan dengan baris berbaris, dan kemudian masuk ke kelas untuk menerima materi pelajaran. Setelah mengikuti sesi pembelajaran hingga sore, mereka akan menjalani kegiatan "pengasuhan" yang dipandu oleh para pelatih. Agus menjelaskan, "Pengasuhan adalah pemberian bekal-bekal, salah satunya mungkin pengenalan lingkungan, kemudian etika selama di sini, sikap PBB, dan sebagainya. Termasuk bekal-bekal keseragaman dan kekompakan."

Setelah sesi tersebut, peserta diberikan waktu untuk beristirahat, melaksanakan salat, dan makan malam sebelum beristirahat pada pukul 21.30 WIB. Agus menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini dilaksanakan di bawah bimbingan pelatih dari Korps Marinir. Pelatih juga menerapkan sistem hukuman dan penghargaan bagi peserta yang melanggar peraturan atau menunjukkan prestasi selama pendidikan. Hukuman yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan peserta, bertujuan untuk meningkatkan disiplin dan semangat mereka.

Kematian Peserta dan Tanggapan Kementerian Pertahanan

Jumlah peserta SPPI yang meninggal dunia selama mengikuti latsarmil kini bertambah menjadi tiga orang. Korban terbaru adalah Novia Rahmadhani Sihotang, yang merupakan peserta calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP). Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi kabar duka ini, menyatakan bahwa Novia mengalami masalah kesehatan saat menjalani latsarmil pada tanggal 22 Juni 2026 dan dirawat di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa. Sayangnya, kondisi Novia semakin memburuk hingga dinyatakan meninggal pada tanggal 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan Novia berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB).

Novia bukanlah satu-satunya peserta yang meninggal selama pelatihan ini. Sebelumnya, dua peserta lainnya, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, juga meninggal dunia. Anisa dilaporkan meninggal akibat heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, sedangkan Yonanda meninggal dunia setelah mengalami penurunan kondisi fisik pada tanggal 17 Juni 2026 saat mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja, dan dinyatakan meninggal akibat cardiac arrest.

Kemhan menyatakan bahwa seluruh peserta latsarmil telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan. Peserta yang mengalami gangguan kesehatan selama pelatihan juga mendapatkan penanganan medis sesuai dengan prosedur yang berlaku. Meskipun begitu, Kemhan berkomitmen untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan latsarmil guna meningkatkan keselamatan dan pengawasan kesehatan peserta, memastikan bahwa aspek ini tetap menjadi prioritas utama dalam program tersebut.

// Artikel Terkait