Wednesday, 10 June 2026
Nasional

Surplus Neraca Dagang Indonesia Mencapai 5,55 Miliar Dolar AS di Kuartal I 2026, Terus Berlanjut Selama 71 Bulan

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 5,55 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026, mempertahankan tren positif selama 71 bulan berturut-turut.

A
Admin Nalar Info
04 May 2026 11 pembaca
Surplus Neraca Dagang Indonesia Mencapai 5,55 Miliar Dolar AS di Kuartal I 2026, Terus Berlanjut Selama 71 Bulan
Advertisement
inews.id Sumber: inews.id

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan nasional untuk periode Januari hingga Maret 2026 mengalami surplus sebesar 5,55 miliar dolar AS. Capaian ini mencatatkan rekor impresif di mana Indonesia telah mengalami surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus yang signifikan ini didorong oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang kuat. "Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 5,55 miliar dolar AS. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas 10,63 miliar dolar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit 5,08 miliar dolar AS," ungkap Ateng dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (4/5/2026).

Total nilai ekspor kumulatif pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai 66,85 miliar dolar AS, meningkat 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama dengan kenaikan nilai sebesar 3,96 persen menjadi 54,98 miliar dolar AS.

Tiga negara mitra utama yang menjadi tujuan ekspor nonmigas Indonesia adalah China, yang merupakan pasar utama dengan nilai 16,50 miliar dolar AS (25,94 persen), didominasi oleh komoditas besi, baja, dan nikel. Amerika Serikat menyusul dengan nilai 7,29 miliar dolar AS (11,46 persen), terutama didorong oleh ekspor mesin elektrik, alas kaki, dan pakaian. India memberikan kontribusi sebesar 4,50 miliar dolar AS (7,08 persen).

// Artikel Terkait