Wednesday, 10 June 2026
Nasional

Sebanyak 65,8 Persen Garis Pantai Utara Jawa Terkena Erosi, Menandakan Krisis Lingkungan

Lebih dari 65 persen garis pantai di Pantura Jawa mengalami erosi, yang disebabkan oleh pembangunan infrastruktur dan aktivitas manusia yang masif.

H
Hanafi Syahputra
05 May 2026 15 pembaca
Sebanyak 65,8 Persen Garis Pantai Utara Jawa Terkena Erosi, Menandakan Krisis Lingkungan
Sejumlah kendaraan melintasi jalan yang tergenang banjir rob di ruas jalur pantura Semarang-Demak ,Jawa Tengah, Minggu (12 /06/2016). Meski banjir yang cukup tinggi hanya kendaraan besar truk atau bus yang bisa melintas. (Gholib)

Analisis menggunakan Citra Satelit Sentinel dari tahun 2000 hingga 2024 menunjukkan bahwa 65,8 persen garis Pantai Utara Jawa mengalami erosi. Hal ini disebabkan oleh pembangunan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi yang berlangsung secara intensif, yang meningkatkan tekanan demografi dan menyebabkan ekstraksi sumber daya laut serta pesisir.


Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tubagus Solihuddin, menjelaskan bahwa 84 persen dari Pantura Jawa terdiri dari endapan pluvial dan delta yang secara geologi masih dalam kondisi unconsolidated, sehingga rentan terhadap erosi. Dia menekankan bahwa tren perubahan garis pantai yang mengkhawatirkan ini didominasi oleh laju erosi yang mencapai 65,8 persen, sementara akresi hanya 34,2 persen.


Lebih lanjut, Tubagus mengungkapkan adanya anomali di mana erosi masif terjadi di area delta yang seharusnya menjadi lokasi sedimentasi. Secara morfologi, sebagian besar Pantura Jawa memiliki pantai berelief rendah dengan elevasi kurang dari 10 meter, yang mencakup 83 persen dari panjang garis pantai. Aktivitas modifikasi di hulu, seperti kanalisasi dan pembangunan bendungan, turut memutus suplai sedimen ke wilayah pesisir.


Contoh nyata dari dampak modifikasi ini terlihat di Tanjung Pontang, Serang, di mana 1,72 kilometer persegi daratan hilang akibat pembelokan aliran Sungai Ciujung Baru. Di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, intrusi air laut telah mencapai empat kilometer ke daratan, merendam lebih dari 1.000 hektare tambak. Di Legonkulon, Subang, intrusi air laut sejauh dua kilometer juga telah merendam 700 hektare tambak, sementara abrasi menggerus jalan desa di Krangkeng, Indramayu.


Di wilayah Demak, Tubagus mencatat bahwa pada abad 15-16, daerah tersebut merupakan perairan Selat Muria, yang kini kembali terancam oleh masuknya air laut sejauh lima hingga enam kilometer, merusak sawah dan permukiman. Kenaikan muka air laut dan penurunan tanah semakin memperburuk kondisi ini, dengan rata-rata kenaikan muka air laut di Pantura mencapai 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun.


Tubagus menegaskan bahwa Pantura Jawa sedang menghadapi krisis yang nyata, dengan tantangan seperti erosi, abrasi, banjir, serta kenaikan muka air laut dan amblesan tanah. Dia menekankan bahwa isu ini bukan hanya lokal, melainkan nasional, mengingat peran Pantura sebagai tulang punggung perekonomian. Untuk menghadapi krisis ini, diperlukan pendekatan lintas sektoral dan kebijakan penanganan pesisir yang berbasis riset saintifik dan data yang kredibel.


// Artikel Terkait