Sunday, 17 May 2026
Nasional

Prabowo Temui Bahlil di Istana, Bahas Harga Minyak dan Pendapatan Negara

Presiden Prabowo Subianto mengundang Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk membahas fluktuasi harga minyak mentah global dan strategi peningkatan pendapatan negara.

A
Adib Ahmad Rizaldi
05 May 2026 11 pembaca
Prabowo Temui Bahlil di Istana, Bahas Harga Minyak dan Pendapatan Negara
Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta. (Liputan6.com/Lizsa Egaham)

Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 5 Mei 2026. Pertemuan ini fokus pada dinamika harga minyak mentah global dan dampaknya terhadap Indonesian Crude Price (ICP).


Dalam rapat tersebut, Bahlil menjelaskan bahwa harga minyak mentah memiliki pengaruh yang besar terhadap kebijakan energi nasional serta penerimaan negara. Selain itu, pemerintah juga membahas penataan sektor pertambangan dengan penekanan pada peningkatan kepemilikan negara sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945. "Kita membahas perkembangan harga BBM dan penataan tambang yang harus didominasi oleh negara," ungkap Bahlil kepada wartawan setelah pertemuan.


Bahlil menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mengoptimalkan pendapatan negara dari sektor sumber daya alam, baik dari tambang yang sudah ada maupun pengembangan baru. Upaya ini akan dilakukan melalui skema kerja sama yang menguntungkan negara. "Kita akan berusaha memaksimalkan pendapatan negara, menggunakan pola-pola seperti pembagian hasil pengelolaan migas," jelasnya.


Selain itu, Bahlil juga menargetkan pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM jenis bensin, dengan rencana pencampuran etanol pada bensin yang ditargetkan mencapai 20 persen pada 2028. "Jika kita mandatori 20 persen, kita bisa mengurangi impor bensin hingga 8 juta kiloliter," tambahnya.


Pemerintah juga menghadapi tantangan dalam pengadaan gas rumah tangga, di mana Indonesia masih mengimpor LPG. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengembangkan Compressed Natural Gas (CNG) yang lebih ekonomis. "Teknologi ini sudah diuji coba di beberapa lokasi dan akan segera diperkenalkan untuk rumah tangga," kata Bahlil.


Dalam konteks pasokan minyak mentah, pemerintah berupaya mendiversifikasi sumber impor dari berbagai negara, termasuk Afrika dan Rusia. "Kita harus memikirkan kebutuhan 280 juta penduduk Indonesia," tegas Bahlil. Ia juga memastikan bahwa meskipun harga ICP meningkat, harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun ini.


Bahlil mengakui bahwa kondisi energi nasional saat ini masih jauh dari ideal, dengan Indonesia yang dulunya eksportir minyak kini beralih menjadi importir. Produksi minyak dalam negeri hanya mencapai 605 ribu barel per hari, sementara konsumsi nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. "Kita harus mencari cara untuk mencapai kemandirian energi," pungkasnya.


// Artikel Terkait