Wednesday, 01 July 2026
Nasional

Prabowo Soroti Ketimpangan Ekonomi: Masyarakat Miskin Justru Meningkat

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan keprihatinannya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, di mana jumlah penduduk miskin justru ber...

A
Arga Pratama
24 June 2026 19 pembaca
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan RSUD KH Muhammad Thohir di Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Rabu (10/6/2026). (Biro Pers Kepresidenan)
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan RSUD KH Muhammad Thohir di Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Rabu (10/6/2026). (Biro Pers Kepresidenan)

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tidak seimbang. Ia mencatat bahwa meskipun ekonomi nasional tumbuh sekitar 5 persen setiap tahunnya, atau total sekitar 35 persen dalam tujuh tahun terakhir, peningkatan tersebut tidak diikuti oleh perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Dalam pernyataannya di acara penutupan Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada Selasa (23/6/2026), Prabowo menyatakan rasa terkejutnya saat mulai menjabat sebagai Presiden RI. Ia menyebutkan bahwa data yang muncul dua bulan setelah pelantikannya menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin justru meningkat meskipun pertumbuhan ekonomi terus terjadi. "Saya merasa ditohok waktu saya jadi Presiden. Data ini muncul kira-kira dua bulan setelah saya jadi Presiden. Kenyataan bahwa setelah tujuh tahun tumbuh 5 persen, masa penduduk miskin tambah? Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah," ujarnya.

Ketidakadilan dalam Pertumbuhan Ekonomi

Prabowo menilai kondisi ini sebagai suatu anomali yang harus diperhatikan. Ia menegaskan bahwa meskipun negara mengalami pertumbuhan ekonomi, kelas menengah justru mengalami penurunan. "Ini kan sesuatu yang aneh, yang anomali. Yang kelas menengah yang tadinya lepas dari kemiskinan, turun saudara-saudara. Katanya negara tambah kaya 30 persen, kok rakyat miskin tambah, kemudian kelas menengah berkurang?" tambahnya.

Menurutnya, situasi ini menunjukkan bahwa hasil dari pertumbuhan ekonomi belum dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Ia berpendapat bahwa ada masalah dalam sistem ekonomi nasional yang menyebabkan ketidakmerataan dalam peningkatan kesejahteraan. "Akhirnya harus kita lihat bahwa ini berarti sistem kita keliru. Sistem ini keliru, karena apa? Kalau orang miskin tambah, yang menengah juga berkurang, berarti yang menikmati pertumbuhan ini hanya segelintir orang saja," jelas Prabowo.

Komitmen untuk Perbaikan Ekonomi

Prabowo menekankan bahwa kondisi ini bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan dan harapan para pendiri bangsa. Ia menegaskan pentingnya keadilan dan kemakmuran yang tidak dapat dicapai jika sistem yang ada masih menyisakan ketimpangan. "Kita merdeka, kita ingin rakyat kita hidup dalam keadilan dan kemakmuran. Dan kemakmuran tidak bisa dengan sistem yang keliru seperti ini," ujarnya.

Oleh karena itu, Prabowo menegaskan komitmennya untuk memperbaiki sistem perekonomian nasional agar hasil pembangunan dan kekayaan negara dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat. "Ini yang saya yakini, dan ini yang akan saya kerjakan untuk saya penuhi sumpah saya kepada rakyat, untuk menjaga kepentingan rakyat sesuai dengan sumpah saya waktu saya dilantik," pungkasnya.

// Artikel Terkait