Sunday, 17 May 2026
Nasional

Peresmian Museum Marsinah oleh Prabowo di Nganjuk: Penghormatan untuk Perjuangan Buruh

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Jawa Timur, sebagai penghormatan kepada aktivis buruh perempuan yang memperjuangkan hak-hak buruh.

N
Naufal Akbar Abdila
16 May 2026 5 pembaca
Peresmian Museum Marsinah oleh Prabowo di Nganjuk: Penghormatan untuk Perjuangan Buruh
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. (Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden)

Presiden Prabowo Subianto mengadakan peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada hari Sabtu, 16 Mei 2026. Marsinah dikenal sebagai seorang aktivis buruh perempuan yang berjuang untuk hak-hak para pekerja.

Dalam sambutannya, Prabowo menyatakan, "Dengan mengucap Bismillahirahmanirrahim, pada pagi hari ini, Sabtu, 16 Mei 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden RI, dengan ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk." Ia didampingi oleh keluarga Marsinah serta Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea. Sebagai simbol peresmian, Prabowo menandatangani prasasti yang menandai dibukanya museum tersebut.

Pentingnya Museum bagi Sejarah Buruh

Prabowo menegaskan bahwa museum ini didirikan untuk mengenang perjuangan para buruh. Ia menyebutkan bahwa peresmian museum ini merupakan sebuah peristiwa yang sangat langka. "Di Nganjuk, untuk melaksanakan peresmian sebuah museum yang didedikasikan untuk mengingat perjuangan buruh, ini saya kira mungkin peristiwa langka," ungkapnya.

Sebagai informasi tambahan, pada 11 November 2025, Prabowo memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah. Ia adalah seorang aktivis buruh perempuan yang gugur pada masa Orde Baru. Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, sebagai anak dari pasangan Astin dan Sumini. Ia memiliki seorang kakak perempuan bernama Marsini dan adik perempuan bernama Wijati.

Kisah Hidup dan Perjuangan Marsinah

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SLTA, pada tahun 1989, Marsinah merantau ke Surabaya dengan harapan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Namun, impiannya terhalang oleh kondisi ekonomi yang sulit. Di Surabaya, ia tinggal bersama kakaknya yang sudah berkeluarga dan bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut. Meskipun bekerja, gaji yang diterimanya tidak mencukupi, sehingga ia terpaksa mencari tambahan dengan berjualan nasi bungkus.

Selain itu, Marsinah juga sempat bekerja di sebuah perusahaan pengemasan sebelum bergabung dengan pabrik arloji PT Catur Putra Surya (PT CPS) di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo pada tahun 1990. Di PT CPS, ia dikenal sebagai buruh yang aktif memperjuangkan hak-hak rekan-rekannya dan bergabung dengan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT CPS.

Pada tahun 1993, pemerintah mengeluarkan instruksi untuk menaikkan gaji pokok karyawan sebesar 20 persen, tetapi imbauan tersebut tidak segera dipenuhi oleh pengusaha, termasuk PT CPS. Hal ini memicu aksi unjuk rasa dari para buruh yang menuntut kenaikan upah. Pada 2 Mei 1993, Marsinah terlibat dalam rapat perencanaan unjuk rasa di Tanggulangin, Sidoarjo. Sehari setelahnya, para buruh melakukan aksi mogok kerja.

Namun, pihak militer setempat segera turun tangan untuk membubarkan aksi tersebut. Pada 8 Mei 1993, para buruh mengajukan 12 tuntutan kepada PT CPS, dan Marsinah menjadi salah satu dari 15 perwakilan buruh yang bernegosiasi dengan pihak perusahaan. Namun, pada siang harinya, 13 buruh ditangkap dan dipaksa mengundurkan diri karena dituduh menghasut rekan-rekannya untuk berunjuk rasa.

Setelah mendengar kabar tersebut, Marsinah berusaha mencari tahu tentang keberadaan rekan-rekannya yang hilang. Namun, ia dilaporkan menghilang pada malam hari sekitar pukul 10. Marsinah ditemukan tewas di Nganjuk pada 9 Mei 1993, dengan hasil autopsi menunjukkan bahwa ia meninggal akibat penganiayaan berat dan diperkosa. Kematian Marsinah memicu kemarahan masyarakat yang mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas kasus ini.

Hingga kini, pelaku pembunuhan Marsinah belum terungkap, menjadikannya sebagai misteri. Ia dikenang sebagai pahlawan buruh dan pernah menerima penghargaan Yap Thiam Hien. Kisah hidupnya terus diceritakan, terutama pada peringatan Hari Buruh, dan telah diangkat ke dalam berbagai karya sastra serta seni pementasan. Keberanian Marsinah menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya dalam dunia buruh.

// Artikel Terkait