Kunjungan luar negeri yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto belakangan ini menjadi topik perdebatan di kalangan masyarakat. Banyak yang menganggap bahwa kunjungan tersebut terlalu sering, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan masalah-masalah yang masih dihadapi di dalam negeri. Sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, Prabowo telah melakukan 54 perjalanan ke luar negeri, dimulai dari kunjungan pertamanya ke China dan yang terbaru ke Prancis, salah satu negara yang sering dikunjunginya.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, menjadi salah satu yang paling vokal dalam mengkritik frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo. Dalam sebuah video yang diunggah pada 30 Mei 2026, ia mengimbau agar Presiden Prabowo mengurangi perjalanan ke luar negeri secara signifikan dan tidak mengabaikan suara masyarakat mengenai hal ini. Dino juga menilai bahwa Prabowo merupakan salah satu pemimpin dunia yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
Kritik Terhadap Anggaran dan Efisiensi Diplomasi
Dino mengungkapkan bahwa sejak menjabat, Prabowo menghabiskan satu dari enam harinya di luar negeri, yang menurutnya tidak lazim dan melampaui batas kewajaran. Ia menekankan bahwa kunjungan kepala negara ke luar negeri memerlukan anggaran yang cukup besar, termasuk biaya rombongan, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokoler, pengamanan, dan uang harian untuk seluruh delegasi.
Sebagai solusi, Dino menyarankan agar Presiden Prabowo memanfaatkan teknologi seperti video conference atau sambungan telepon untuk berkomunikasi dengan pemimpin negara lain, yang dinilai lebih efisien. Ia memberikan contoh Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, yang telah melakukan 17 kali panggilan telepon kepada Donald Trump tanpa pernah mengadakan pertemuan bilateral.
Pernyataan Sekretaris Kabinet dan Menteri Luar Negeri
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan bahwa jadwal kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri sudah direncanakan jauh sebelumnya, meskipun ada juga yang bersifat mendesak. Ia menekankan bahwa perkembangan dunia sangat dinamis dan memerlukan respons cepat. Teddy menambahkan bahwa Prabowo harus membangun hubungan diplomasi yang baik dengan pemimpin dunia lainnya, terutama di tengah krisis global yang dihadapi Indonesia.
Menanggapi kritik tersebut, Teddy menegaskan bahwa kunjungan Prabowo bukan sekadar seremonial, melainkan menghasilkan banyak pencapaian. Ia juga membandingkan jumlah rombongan saat kunjungan luar negeri Prabowo yang lebih sedikit dibandingkan dengan presiden sebelumnya. Teddy menegaskan bahwa kelebihan biaya yang tidak tercover oleh anggaran negara ditanggung oleh Prabowo secara pribadi.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri, Sugiono, menegaskan bahwa kunjungan luar negeri Presiden Prabowo merupakan bagian dari politik luar negeri Indonesia yang aktif. Ia menyatakan bahwa kehadiran presiden di forum internasional adalah konsekuensi dari posisi Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global. Sugiono juga menjelaskan bahwa setiap kunjungan telah direncanakan dengan matang dan disesuaikan dengan perkembangan situasi global.
Presiden Prabowo sendiri memberikan tanggapan terhadap kritik yang ditujukan kepadanya terkait kunjungan luar negeri. Ia menyoroti bahwa kritik juga pernah dilayangkan kepada Presiden Joko Widodo yang dianggap tidak peduli dengan politik luar negeri. Prabowo menjelaskan bahwa saat ini, dinamika geopolitik sangat kompleks dan memerlukan pemimpin yang mampu menjalin hubungan baik dengan berbagai negara.
Prabowo menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia adalah non-blok, yang berarti bersahabat dengan semua negara tanpa terlibat dalam pakta militer. Ia mengungkapkan bahwa banyak kepala negara yang mengundangnya untuk berkunjung, dan menganggap tidak tepat jika Presiden Indonesia mengabaikan undangan dari pemimpin negara lain, terutama dari negara besar seperti Amerika Serikat.
Dengan demikian, Prabowo berkomitmen untuk memenuhi undangan dari pemimpin negara sahabat sebagai upaya untuk meningkatkan hubungan bilateral dan kerja sama internasional. Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan semua negara, serta menjadikan Indonesia sebagai tetangga yang baik dalam pergaulan internasional.