Wednesday, 01 July 2026
Nasional

Kisah di Balik Eksekusi Pengosongan Hotel Sultan

Eksekusi pengosongan Hotel Sultan pada Kamis (18/6/2026) meninggalkan kesan mendalam bagi para tamu, salah satunya Lutfhi, yang merasa kecewa dengan kurangnya komunikasi dari pihak hotel.

A
Aryani Sarasvati
19 June 2026 42 pembaca
Lutfhi (39) tamu hotel korban terdampak eksekusi
Lutfhi (39) tamu hotel korban terdampak eksekusi

Pihak manajemen hotel menginformasikan adanya demonstrasi di area depan gedung. Eksekusi pengosongan Hotel Sultan berlangsung pada hari Kamis, 18 Juni 2026, dan telah selesai dilaksanakan. Tim verifikasi melakukan pemeriksaan menyeluruh di seluruh area hotel, membongkar kamar, dan memastikan tidak ada ruangan yang terlewat untuk diperiksa.

Saat proses tersebut berlangsung, Lutfhi (39), seorang pengunjung dari Surabaya, terkejut melihat kamarnya yang sudah terbuka. Ia segera memeriksa barang-barangnya dan mendapati beberapa barang, seperti pakaian dan perlengkapan mandi, hilang tanpa jejak. Lutfhi kembali ke hotel setelah personel gabungan berhasil mengusir massa. Suasana di hotel terlihat kacau dan ramai, tidak hanya di lobi, tetapi juga di setiap lantai, termasuk di kamarnya.

Situasi yang Tak Terduga

Personel gabungan dari TNI dan Polri terlihat secara bergantian mengawal tim juru sita dan verifikator yang memeriksa setiap sudut hotel. Lutfhi tidak menyangka bahwa perjalanan dinasnya ke Jakarta akan berujung pada situasi yang tidak mengenakkan. Ia menjadi salah satu tamu yang terdampak akibat pengambilalihan Hotel Sultan oleh negara.

Di lobi hotel yang berantakan, Lutfhi menyampaikan kekecewaannya. Ia merasa tidak ada komunikasi yang jelas antara pihak hotel dan para tamu sebelum eksekusi dilakukan. Menurutnya, pihak hotel hanya memberikan informasi bahwa pelayanan akan tetap berjalan. "Masalae wes mbayar, lah kemarin enggak ada pengumuman, enggak ada info. Cuma jam 9 malam kalau enggak salah (kabar layanan hotel tetap berjalan)," ujarnya.

Kekacauan dan Kehilangan

Lutfhi mengaku hanya mengetahui akan ada unjuk rasa di depan hotel tempatnya menginap. Saat hendak pergi ke lokasi kerja pada pagi hari, ia melihat halaman Hotel Sultan sudah dipasang kawat berduri. Ia meminta izin kepada pengelola hotel untuk melintas dan diizinkan. Tanpa firasat buruk, Lutfhi percaya bahwa operasional hotel tetap berjalan, sehingga ia melanjutkan aktivitasnya setelah sarapan.

Namun, saat kembali ke hotel menjelang sore untuk beristirahat sebelum agenda terakhir, ia sangat terkejut melihat keadaan hotel yang berantakan. Banyak petugas berjaga dan kamar para tamu yang sebelumnya tertutup kini dalam keadaan terbuka. Dalam kebingungan, Lutfhi bertanya kepada seorang petugas mengenai situasi yang terjadi. "Saat pulang saya kan bawa kartu akses dilirik sama bapak polisi itu 'Mau ke mana mas?', 'Ke kamar', 'Lho gak tau tah kalau hotelnya dieksekusi?', 'Lho tadi pagi kan cuma demo katanya'," ungkapnya.

Bagi Lutfhi, hilangnya pakaian bukanlah masalah terbesar meskipun nilainya cukup tinggi. Ia lebih menyesalkan kurangnya komunikasi dari pengelola hotel kepada para tamu yang menginap selama proses tersebut. Menurutnya, kondisi ini seharusnya bisa diantisipasi lebih awal. Jika pihak hotel memberikan informasi mengenai eksekusi pengosongan, ia akan mengemas barang-barangnya dan mencari penginapan lain agar tidak menjadi korban.

Walaupun pakaian yang dimilikinya telah hilang, Lutfhi tetap menjalankan tanggung jawabnya dengan mengembalikan kunci akses ke resepsionis, meskipun tidak ada seorang pun yang menyambut. Hanya ada petugas keamanan yang lalu lalang, tetapi bukan untuk melayani. Mengenakan baju batik dan celana pendek sambil membawa tas serta barang-barang seadanya, Lutfhi melangkah keluar dari lobi hotel.

Ia berusaha mencari pihak manajemen yang seharusnya dapat dimintai pertanggungjawaban atas situasi yang dialaminya. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Tak satu pun pihak hotel berhasil ia temui. Pada akhirnya, Lutfhi hanya bisa meninggalkan hotel dan mencari tempat menginap lain. Di tengah perjalanan dinas yang belum selesai, ia terpaksa merogoh kocek tambahan untuk membayar penginapan baru, padahal ia seharusnya masih memiliki satu malam yang bisa digunakan. "Lah kalau ada (informasi eksekusi) ya saya bawa semuanya. Saya gak mungkin balik dan pakaian kayak gini kan, ini sepatunya di sini kayak wong ngungsi gini lho. Ya opo lali mau cari hotel lagi," keluhnya.

// Artikel Terkait