Wednesday, 01 July 2026
Nasional

Jakarta Raih Peringkat 53 dalam Daftar Kota Terbaik Dunia, Mengungguli Washington DC

DKI Jakarta berhasil menempati posisi ke-53 dalam daftar 100 Kota Terbaik di Dunia 2026, mengalahkan Washington DC yang berada di urutan ke-57.

D
Dimas Adhyaksa Putra
20 June 2026 23 pembaca
Parade Kebudayaan di Bundaran HI
Parade Kebudayaan di Bundaran HI

DKI Jakarta meraih peringkat ke-53 dalam daftar 100 Kota Terbaik di Dunia (World's Best Cities) 2026 yang dikeluarkan oleh Resonance Consultancy, sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di Brussel, Belgia. Dalam daftar tersebut, Jakarta berhasil mengalahkan Washington DC, Amerika Serikat yang berada di posisi ke-57, serta Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang menempati peringkat ke-86.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, merasa sangat senang dengan pencapaian ini. Ia menyatakan bahwa hasil ini menjadi motivasi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk terus meningkatkan daya saing ibu kota di kancah global. "Ya, saya bersyukur sekali. Tadi saya dapat berita dari Pak Gubernur, Jakarta masuk sebagai kota terbaik nomor 53. Bahkan Washington DC kalah," ungkap Rano di Taman Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (20/6/2026).

Peningkatan Daya Tarik Melalui Beragam Kegiatan

Rano menilai bahwa pencapaian ini tidak terlepas dari banyaknya kegiatan dan festival yang dilaksanakan di Jakarta. Ia percaya bahwa berbagai acara yang melibatkan masyarakat berkontribusi dalam meningkatkan daya tarik ibu kota di mata dunia. "Ini menjadi pecutan, menjadi semangat kita. Memang tolok ukurnya ternyata banyak kegiatan event yang memang kita buat bersama, itu yang meningkatkan," ujarnya.

Optimisme Rano juga terlihat dari harapannya agar pencapaian ini berdampak positif terhadap posisi Jakarta dalam indeks kota global atau Global City Index. "Kalau kemarin 71, ini akan melonjak. Mudah-mudahan itu menjadi target yang tidak muluk, tapi Insya Allah bisa," tambahnya.

Daya Tarik Jakarta di Mata Dunia

Chris Fair, President & CEO Resonance Consultancy, menjelaskan bahwa keberhasilan Jakarta dalam peringkat ini disebabkan oleh daya tarik pariwisata, popularitas di media sosial, dan peningkatan konektivitas transportasi. Ia menyebut Jakarta sebagai metropolitan terpadat kedua di dunia yang terus berkembang meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk penurunan muka tanah dan perpindahan status ibu kota negara ke Nusantara. "Ya, status ibu kota negara memang akan berpindah ke Nusantara. Namun, pusat gravitasi ekonomi Jakarta tidak ikut berpindah," jelas Chris.

Menurutnya, daya tarik utama Jakarta terletak pada aspek lovability atau daya tarik kota. Jakarta menempati posisi ke-28 dunia dalam kategori tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan peringkat keseluruhannya. Daya tarik ini didorong oleh adanya kawasan wisata dan ruang publik yang dianggap fotogenik, seperti Kota Tua yang telah direvitalisasi, kawasan rooftop di SCBD, serta area tepi laut Pantai Indah Kapuk (PIK). Jakarta juga masuk dalam 10 besar dunia untuk kategori Shopping dan Family-Friendly Attractions.

Selain itu, popularitas Jakarta di media sosial juga cukup mencolok. Kota ini menempati peringkat kesembilan dunia untuk unggahan Instagram dan peringkat kedelapan dunia untuk video TikTok. "Popularitas Jakarta di media sosial juga sangat tinggi. Kota ini menempati peringkat ke-9 dunia untuk unggahan Instagram dan peringkat ke-8 dunia untuk video TikTok," katanya.

Dalam hal konektivitas transportasi, Resonance mencatat adanya peningkatan signifikan. LRT Jabodebek semakin terintegrasi dengan moda transportasi lain, sementara pembangunan MRT Jakarta Fase 2 menuju kawasan Kota terus berlanjut. Layanan Kereta Bandara Soekarno-Hatta juga semakin memudahkan mobilitas masyarakat dari dan menuju pusat kota.

Dari sisi ekonomi, Resonance mencatat adanya arus investasi yang cukup deras ke kawasan metropolitan Jakarta. Perkembangan pusat data di koridor Bekasi-Cikarang untuk mendukung kebutuhan cloud computing dan kecerdasan buatan (AI), serta pembangunan gedung perkantoran premium di kawasan Sudirman-Thamrin, Kuningan, dan TB Simatupang menjadi indikator kuatnya aktivitas ekonomi ibu kota.

Pemeringkatan World's Best Cities 2026 dilakukan dengan menggunakan metode Place Power Score, yang menggabungkan data kinerja kota dengan persepsi publik global. Penilaian ini mencakup tiga pilar utama, yaitu livability (kenyamanan hidup), lovability (daya tarik kota), dan prosperity (kemakmuran ekonomi), yang diukur melalui 46 metrik dalam 30 kategori. Data tersebut kemudian dipadukan dengan survei Ipsos terhadap lebih dari 21 ribu responden di 31 negara mengenai kota yang paling ingin mereka kunjungi, tinggali, dan yang dianggap menawarkan peluang kerja terbaik.

// Artikel Terkait